Selasa, 14 Juni 2011

Konsep Klinis dalam Paradigma Psikoanalisis

1.      Tokoh-Tokoh dalam Aliran Psikoanalisis
Berbicara tentang sebuah paradigma tentunya tidak terlepas dari konsep-konsep para pencetus paradigma tersebut. Demikian pula dalam aliran psikoanalisis sebagai salah satu mahzab besar dalam psikologi. Adapun para tokoh dalam aliran psikoanalisis dapat dikelompok dalam dua katagorisasi yakni tokoh era klasik dan tokoh era kontemporer.
a.      Era Klasik (Sigmund Freud, 1856-1939)
Lahir di Austria dan dibesarkan dari keluarga yahudi, dalam bidang akademik ia merupakan seorang psikiater sekaligus neurolog bidang psikiatri dan kesehatan mental. Teori psikoanalisis era klasik mengacu pada berbagai pandangan awal yang dikemukakan oleh Sigmund freud mencangkup struktur, perkembangan serta dinamika kepribadian dalam diri individu (Gerald,2010).
1)      Struktur kepribadian: freud membagi tiga bagian utama yakni id,ego dan super ego. Ketiganya merupakan metafora dari fungsi-fungsi energi spesifik. Menurut freud id muncul pada saat seseorang dilahirkan yang mencangkup kebutuhan dasar terhadap makanan, air, kehangatan, kasih sayang dan seks. Id bekerja dengan berdasarkan prinsip kepuasan (pleasure principle) yang memerlukan dan mencari kepuasan secara langsung. Ketegangan muncul ketika pemenuhan terhadap id tidak dapat terealisasi sepenuhnya, pada saat inilah ego muncul sebagai eksekutor yang berfungsi mengontrol berbagai tindakan dan memutuskan insting-insting mana yang terlebih dahulu akan dipuaskan. Mekanisme ego itu sendiri diatur melalui prinsip realitas, yang menghubungkan antara kebutuhan realita dan pemenuhan langsung yang diinginkan oleh id. Bagian terakhir muncul istilah superego, yang merupakan bentuk internalisasi dari sistem nilai yang berkembang selama masa kanak-kanak.
2)      Perkembangan dan dinamika kepribadian.
Freud berpendapat bahwa kepribadian berkembang melalui empat tahap yang disebut dengan psikoseksual (Gerald,2010). Pada setiap tahap terdapat bagian tubuh yang berbeda dan memiliki sensitifitas terhadap kenikmatan seksual yang memberikan kepuasan libido pada id. Mengenai dinamika kepribadian freud mengungkapkan tentang adanya kecemasan neurotic yang muncul dari ketakutan terhadap konsekuensi yang berbahaya yang mungkin diterima bila mengekpresikan implus id yang sebelumnya ditekan (Semiun,2010). Bentuk kecemasan tersebut pada akhirnya melahirkan defence mechanism sebagai wujud pertahanan ego dari kecemasan.
    Mengenai berbagai kasus-kasus klinis yang ditangani Sigmund freud menggunakan konsep psikoanalisis terutama terkait psikopatologi, erat kaitannya dengan akibat  dorongan kuat insting id yang mengawali tahap perkembangan konflik-konflik yang tidak disadari yang berhubungan dengan tahap psikoseksual tertentu. Semisal studi kasus tentang hysteria yang dialami dora, melalui metode analisis terapi dapat dinterpretasikan gejala-gejala simtom histeris dimotivasi oleh implus seksual yang direpres (Semiun, 2010).
b.      Era kontemporer (Neo-Freudian)
Signifikansi pemikiran Sigmund freud dalam memahami jiwa terutama mengenai alam bawah sadar, mengilhami berbagai tokoh untuk mengikuti dan  mengakui karya Sigmund freud termasuk para kolega dimasa itu. Beberapa diantara yakni: carl jung, adler, fromm, Karen horney dan Sullivan. Pemikiran-pemikiran dari tokoh aliran psikoanalisis dikatagorikan dalam pemikiran era kontemporer atau yang lebih dikenal dengan Neo-freudian. Konsep dari neo-freudian lahir sebagai bentuk ketidaksesuaian dengan beberapa konsep pemikiran freud namun tetap tidak terlepas dari garis besar bahwa pada dasarnya prilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan alam bawah sadar di dalam jiwa. Secara sistematis dijelaskan tokoh-tokoh yang termasuk dalam era pemikiran kontemporer sebagai berikut:
1)      Carl Gustav Jung (1875-1961)
Seorang psikiater berkebangsaan swiss, Jung dilahirkan dari seorang ibu bernama Emilie Preiswerk di sebuah desa kecil bernama Kesswil pada 26 Juli 1875 (Alwisol,2008 ). Ia merupakan salah satu pengikut aliran psikoanalisis sigmud freud, namun pada tahun 1914 mulai bertentangan isu terhadap pemikiran freud yang  akhirnya mengembangkan konsep psikologi analitis. Pemikiran ini merupakan konsep gabungan antara konsep freud dengan humanistik dengan pengurangi penekanan akan pentingnya dorongan biologis sebagai penentu utama prilaku dan penggunaan konsep realisasi diri. Suatu kondisi pencapaian yang terjadi ketika seseorang mampu menyeimbangkan dan mengekpresikan seluruh aspek positif dan kreatif kepribadiannya (Gerald, 2010).
Konsep kekhasan dalam pandangan jung membahas tentang ketidaksadaran kolektif yang berisi informasi berasal dari sejarah sosial umat manusia (Alwisol,2008 ). Bagian yang termasuk dalam ketidaksadaran kolektif yakni:
a)       Archetype
Ketidaksadaran adalah tempat dimana agama dan simbol-simbol religius berakar. Jadi, ketidaksadaran bukan hanya dasar kemampuan manusia untuk mengembangkan agama dan simbol-simbol religius dan "pintu masuk" yang membuka lubuk jiwa manusia untuk pengalaman religius, tetapi juga menyediakan materi-materi untuk gagasan-gagasan keagamaan.
Materi yang disediakan oleh ketidaksadaran untuk proses simbolisasi itu, oleh C. G. Jung disebut "arketipe" yaitu "gambaran arkais, kuno dan universal, yang sudah ada sejak zaman yang amat silam. Dalam kata Jung, arketipe 'merupakan bentuk atau gambaran yang bersifat kolektif yang terjadi praktis di seluruh bumi sebagai unsur kisah suci (myth) dan dalam waktu yang sama merupakan hasil asli dan individual yang asal-usulnya tidak disadari.
b)      Persona
Persona secara harfiyah bermakna topeng, adalah wajah kepribadian yang ditunjukkan kepada dunia luar dengan maksud agar dapat diterima dan dihargai secara sosial.
c)      Bayangan
Merupakan isi psikis yang tidak ingin ditampilkan atau bahkan dihargai oleh seseorang atau individu. Bayangan merupakan bagian dari hidup seseorang namun ia tidak diinginkan untuk muncul karena dianggap lemah, tidak dapat diterima secara sosial atau bahkan cenderung aneh.
d)      Anima dan Animus
Carl Gustav Jung mengemukakan bahwa dalam dalam alam nirsadar manusia, setiap manusia memiliki sisi lawan jenis yang direfleksikan dalam kecenderungan dan prilaku dalam alam sadar mereka.Dengan kata lain : dalam alam nirsadar setiap laki-laki terdapat ekspresi dari inner-personalitas  perempuan, anima. Begitu pula dalam alam nirsadar setiap perempuan terdapat ekspresi dari inner-personalitas laki-laki, yang disebut animus.
2)      Alfred Adler (1870-1937)
Adler dilahirkan di Wina pada tanggal 9 Pebruari 1870, dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895. Mula-mula mengambil spesialisasi daalam opthamologi, dan kemudian dalam lapangan psikiatri (Alwisol, 2008). Sama seperti halnya jung adler juga mengalami selisih pendapat dengan konsep freud. Ia menekankan pentingnya pencapaian tujuan, manusia harus berjuang untuk memperoleh superioiritas namun tidak berubah menjadi bentuk antisocial. Terkait dengan hal tersebut, adler menyatakan tentang konsep psikologi individual. Ada tujuh prinsip yang terkandung dari teori Psikologi Individual Adler, yaitu ( Alwisol, 2008 ):
a)      Prinsip Rasa Rendah Diri (Inferiority Principle)
Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain.
b)      Prinsip Superior (Superiority Principle)
Adler beranggapan bahwa manusia adalah mahluk agresif dan harus selalu agresif bila ingin survive. Namun kemudian dorongan agresif ini berkembang menjadi dorongan untuk mencari kekuatan baik secara fisik maupun simbolik agar dapat survive.Dorongan itu ada oleh karena manusia mengharapkan untuk bisa mencapai kesempurnaan (superior). Dorongan superior ini sangat bersifat universal dan tak mengenal batas waktu.
c)      Prinsip Gaya Hidup (Style of Life Principle)
Usaha individu untuk mencapai superioritas atau kesempurnaan yang diharapkan, memerlukan cara tertentu. Adler menyebutkan hal ini sebagai gaya hidup (Style of Life). Gaya hidup yang diikuti individu adalah kombinasi dari dua hal, yakni dorongan dari dalam diri (the inner self driven) yang mengatur aarah perilaku, dan dorongan dari lingkungan yang mungkin dapat menambah, atau menghambat arah dorongan dari dalam tadi.
d)      Prinsip Diri Kreatif (Creative Self Principle)
Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, atau sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus.
e)      Prinsip Diri yang Sadar (Conscious Self Principle)
Adler tidak menerima konsep ambang sadar dan alam tak sadar (preconsious dan uncounsious) Freud. Hal ini dianggap sebagai mistik. Ia merasa bahwa manusia sangat sadar benar dengan apa yang dilakukannya, apa yang dicapainya, dan ia dapat merencanakan dan mengarahkan perilaku ke arah tujuan yang dipilihnya secara sadar.
f)       Prinsip Tujuan Semu (Fictional Goals Principle)
Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri keratifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.
g)      Prinsip Minat Sosial (Social Interest Principle)
Adler menyatakan pula bahwa manusia memiliki minat sosial. Bahwa manusia dilahirkan dikaruniai minat sosial yang bersifat universal. Kebutuhan ini terwujud dalam komunikasi dengan orang lain, yang pada masa bayi mulai berkembang melalui komunikasi anak dengan orang tua.
3)      Karen Horney (1885-1952)
Karen horney merupakan salah satu dari tokoh yang tergabung dalam analis era kontemporer. Pada Tahun 1934 ia pindah ke New York untuk  mempratekkan psikoanalisa dan mengajar pada New York Psychoanalitic Institute. Rasa ketidakpuasan mengajar psikoanalisa yang ortodoks, ia dengan orang-orang yang sepaham akhirnya mendirikan The Association for Advancenment of Psychoanalisis. Ia menjadi kepala Institute tersebut sampai wafatnya. Seperti pandangan tokoh psikoanalisis lainnya, horney memiliki perbedaan pandangan dengan konsep yang dikemukakan Sigmund freud. Beberapa perbedaan tersebut yaitu:
a)      Horney memandang teori Freud terlalu mekanistik dan biologik sehingga tidak bisa menggambarkan keutuhan motivasi dan tingkahlaku manusia.
b)      Perhatian Freud terhadap interrelasi manusia sangat kecil, sehingga berakibat penekanan yang salah pada motivasi seksual dan konflik. Seharusnya, keamanan dan ketidakpuasan (nonseksual) yang menjadi kekuatan pendorong berfungsinya kepribadian.
c)      Tingkahlaku agresi dan destruksi bukan hereditas seperti yang dikemukakan Freud, tetapi merupakan sarana bagaimana orang berusaha melindungi keamanannya.
d)      Freud berpendapat penis envy adalah gambaran wanita yang inferior dan cemburu karena peran kelaminnya lebih rendah dari laki-laki, sedang Horney (dan Adler) berpendapat bahwa penis envy adalah simbolik wanita yang menginginkan persamaan status dan kekuasaan seperti pria.
Konsep utama yang dikemukakan oleh horney membahas mengenai kecemasan dasar dan konflik (permusuhan) dasar yang dapat mengakibatkan terjadinya neurosis. Menurut horney, kecemasan dasar berasal dari takut suatu peningkatan yang berbahaya dari perasaan tak berteman dan tidak berdaya dalam dunia penuh ancaman. Kecemasan dasar selalu dibarengi permusuhan dasar, berasal dari perasaan marah, suatu predisposisi untuk mengantisipasi bahaya dari orang lain dan untuk mencurigai orang itu. Bersama-sama kecemasan dan permusuhan membuat orang yakin bahwa dirinya harus dijaga untuk melindungi keamanannya (Alwisol,2008). Kecemasan dan permusuhan cenderung direpres, atau dikeluarkan dari kesadaran karena menunjukkan rasa takut bisa membuka kelemahan diri dan menunjukkan rasa marah beresiko dihukum dan kehilangan cinta dan keamanan. Teori Horney tentang neurosis didasarkan pada konsep gangguan psikis yang membuat orang terkunci dalam lingkaran yang membuat tingkahlaku tertekan dan tidak produktif secara terus menerus. Horney mengemukakan 10 (sepuluh) kebutuhan neurotik, yaitu:
a)      Kebutuhan kasih sayang dan penerimaan
Keinginan membabi-buta untuk menyenangkan orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan orang lain agar orang itu dapat diterima baik oleh orang lain.
b)      Kebutuhan partner yang bersedia mengambil alih kehidupannya. Tidak memiliki kepercayaan diri, berusaha mengikatkan diri dengan partner yang kuat.
c)      Kebutuhan membatasi dalam ranah yang sempit
Penderita neurotik sering berusaha untuk tidak tetap menarik perhatian, menjadi orang kedua, puas dengan yang serba sedikit (mereka merendahkan dirinya sendiri).
d)      Kekuasaan
Kekuatan dan kasih sayang mungkin merupakan 2 (dua) kebutuhan neurotic terbesar. Kebutuhan kekuatan, keinginan berkuasa, tidak menghormati orang lain, memuja kekuatan dan melecehkan kelemahan, biasanya dikombinasikan dengan kebutuhan prestos dan kepemilikan, yang berujud sebagai kebutuhan mengontrol orang lain dan menolak perasaan lemah atau bodoh.
e)      Kebutuhan mengeksploitasi orang lain
Takut menggunakan kekuasaan secara terang-terangan, menguasai orang lain melalui eksploitasi dan superiota intelektual neurotic sering mengevaluasi orang lain berdasarkan bagaimana mereka dapat dimanfaatkan atau dieksploitasi, pada saat yang sama mereka takut dieksploitasi orang lain.
f)       Kebutuhan pengakuan social atau pretise
Kebutuhan memperoleh penghargaan sebesar-besarnya dari masyarakat. Banyak orang yang berjuang menjadi nomor satu, menjadi yang terpenting, menjadi pusat perhatian.
g)      Kebutuhan menjadi pribadi yang dikagumi
Pengidap narkotik memiliki gambaran diri melambung dan ingin dikagumi atas dasar gambaran itu, bukan atas siapa sesungguhnya mereka.
h)      Kebutuhan ambisi dan prestasi pribadi
Penderita neurotic sering memiliki dorongan untuk menjadi yang terbaik dan memaksa diri untuk semakin berprestasi sebagai akibat perasaan tidak aman, harus mengalahkan orang lain untuk menyatakan superiotasnya.
i)        Kebutuhan mencukupi diri sendiri dan independensi
Neurotic yang kecewa – gagal menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain yang, cenderung akan memisahkan diri tidak mau terikat dengan orang lain menjadi orang menyendiri. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk jauh dari orang lain, membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa orang lain.
j)       Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan
Melalui perjuangan yang tidak mengenal lelah untuk mejadi sempurna,penderita neurotic membuktikan harga diri dan superiotasnya. Mereka takut membuat kesalahan dan mati-matian berusaha menyembunyikan kelemahannya dari orang lain.
Penyebab utama timbulnya tingkahlaku neurotic menurut horney adalah hubungan interpersonal yang salah, karena itu mengatasi tingkahlaku neurotic, konflik dan kecemasan hanya dapat dilakukan melalui perbaikan hubungan interpersonal yang salah itu. Perbedaan antara gaya hubungan interpersonal yang normal dengan neurotic, ada pada bagaimana terjadinya tingkahlaku. Pada orang normal, tingkahlaku atau pilihan gaya yang dipakai berubah-ubah dari gaya yang satu ke gaya yang lain secara spontan, sedang pada pengidap neurotic pilihan gaya cenderung tetap, tidak berubah, memakai satu gaya secara kompulsif.
3)      Eric Fromm
Terlahir tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt Jerman dalam lingkungan keluarga Yahudi ortodoks. Fromm masuk dalam lingkungan Institute Fur Social Forschung dan menjadi direktur sosial psikologi. Di Institute inilah Fromm banyak menimba pengalaman tentang berbagai bidang pemikiran, terutama materialisme, psikoanalisa, pengaruh ekonomi terhadap kejiwaan, serta karakter sosial masyarakat. Konsep pemikiran fromm dipengaruhi oleh konsep aliran filsafat eksistensialisme mengenai eksistensi manusia. Manusia pada dasarnya memiliki  kebutuhan untuk bereksistensi sebagai manusia. Kebutuhan ini oleh from dikelompokkan menjadi dua bagian:
a)      Kebutuhan Kebebasan dan Keterkaitan
b)      Kebutuhan untuk memahami dan beraktifitas
Manusia yang dikatakan sehat dalam pemikiran fromm adalah manusia yang mampu berproduktivitas dan memenuhi kebutuhan yang telah dikelompokkan diatas sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Dalam kajian arah klinisnya. Pendekatan fromm lebih menekankan  aspek interpersonal dan hubungan teraputik. Menurutnya, tujuan klien dalam terapi adalah untuk memahami diri sendiri. Tanpa pengetahuan tentang diri sendiri, orang tidak akan tahu orang lain. Fromm juga yakin bahwa klien mengikuti terapi untuk mencari kepuasan dari kebutuhan dasar kemanusiaannya, yakni keterhubungan, keberakaran, transendensi, perasaan identitas dan kerangka orientasi. Karena itu terapi harus dibangun melalui hubungan pribadi antara terapis dengan kliennya. Menurut From, terapis tidak seharusnya terlalu ilmiah dalam memahami kliennya. Klien hendaknya tidak dilihat sebagai orang sakit, tetapi diterima sebagai manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya yang tidak berbeda dengan kebutuhan terapis.
4)      Harry Stuck Sullivan (1892-1949)
Lahir di komunitas pertanian kecil di New York th1892, Memandang kepribadian sebagai pola yang tetap dari interaksi sosial. Konsep terkenal yang dikemukakan oleh mengenai interpersonal theory yang menjelaskan bahwa hubungan di awal kehidupan dan pertemuan dengan orang lain  membentuk pandangan tentang diri dan menciptakan kecenderungan perilaku yang bertahan sepanjang hidup. Mengenai perkembangan kepribadian  hampir sama dengan pendapat Sigmund freud, Sullivan membagi dalam tujuh tahap perkembangan yang masing-masing perkembangan menghadapi masalah hubungan interpersonal yang berbeda-beda. Adapun tahap perkembangan kepribadian sebagai berikut:
a)      Infancy (birth to 1 year)
b)      Childhood (1 to 5 years old)
c)      Juvenile (6 to 8 years old)
d)      Preadolescence (9 to 12 years old)
e)      Early Adolescence (13 to 17 years old)
f)       Late Adolescence (18 to 22 or 23 years old)
g)      Adulthood (23 years old and on)
2.      Konsep Klinis dalam Paradigma Psikoanalisis
Dalam Psikoanalisis perilaku abnormal disebabkan oleh faktor-faktor intrapsikis  (konflik tak sadar, represi, mekanisme defensive), yang menganggu penyesuaian diri seseorang. Menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Atas dasar teori tersebutlah pendekatan psikoanalisis dalam psikologi klinis mengutamakan penggalian isi ketidaksadaran seseorang (Markam, 2003). Suatu simtom adalah manifestasi dari suatu defence yang berkembang dalam individu. Observasi yang dilakukan dalam pendekatan psikoanalisis dapat diarahkan pada semua yang dimiliki subjek, misalnya hasil karya subjek yang berupa puisi, lukisan, dan sebagainya yang dapat memproyeksikan dunia pribadi subjek yang tak terungkap dalam interaksi biasa. Meskipun Freud dan tokoh-tokoh Psikoanalisis lain adalah seorang dokter syaraf atau Psikiater, mereka tidak menganggap penting label diagnostic karena teori-teori mereka lebih mengutamakan dinamika terjadinya gangguan.
Psikoterapi yang berorientasi psikoanalisis umumnya berlangsung lama karena berusaha merekontruksi kepribadian seseorang setelah dibongkar isi ketidaksadarannya. Seseorang menjadi sakit atau terganggu bila terlalu banyak merepresikan dirinya. Jadi untuk menjadikannya seorang yang sehat, ia harus mengurangi represi , mengurangi isi ketidaksadaran yang mengganggu, dengan lebih menyadari apa yang ada dalam diri (semiun,2010). Dalam bentuk teknik terapinya aliran psikoanalisis mengembangkan beberapa metode atau teknik-teknik terapi antara lain:
a.      Asosiasi bebas
Pada awalnya, freud mempelajari metode ini yang telah digunakan oleh koleganya yakni Dr. Joseph Breuer, untuk merawat kasus hysteria, metode ini dinamakan “pengobatan dengan berbicara” . Dari metode tersebut kemudian Freud secara bertahap  mengembangkan metode asisoasi bebasnya sendiri yang khas yang oleh Ernest Jones disebut sebagai “salah satu dari dua karya dalam kehidupan ilmiah Freud” (Semiun, 2010). Dalam metode asosiasi bebas, menuntut pasien untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, terlepas dari sesuatu yang dianggap memalukan, remeh, tidak logis ataupun hal yang kabur. Metode ini tidak berhenti pada asal usul simtom-simtom tetapi memungkinkah bahkan menuntut pasien berbicara tentang segala sesuatu dan apa saja yang terjadi pada dirinya dengan leluasa tanpa perlu membuat uraian yang logis, teratur dan penuh arti. Peran analis dalam hal ini hanyalah sebagai pendengar dan bila pasien mulai kehabisan kata-kata maka analis memberikan pertanyaan yang mendorong pasien untuk berbicara kembali, sebagai upaya mengantisipasi dan meminimalisir berbagai kendala proses ini biasanya menyuruh pasien berbaring di atas dipan didalam ruangan yang tenang.
Pemahaman Freud tentang ucapan-ucapan pasien yang serba tidak teratur ini adalah bahwa setiap pernyataan memiliki hubungan dengan apa yang telah dikatakan sebelumnya sehingga terbentuklah suatu rangkaian asosiasi yang kontinyu dari awal hingga akhir. Menurut Freud, seperti apapun pasien menyembunyikan kasusnya, suatu ketika saat terbentuk rantai asosiasi analis akan dapat memahami konflik mental dan emosional pasien tersebut.
b.      Analisis mimpi
Mimpi adalah ungkapan isi-isi tak sadar karena turunnya control kesadaran (Semiun, 2010). Analisis mimpi ini bukanlah metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas, analisis ini merupakan konsekuensi wajar dari instruksi kepada pasien agar ia bicara tentang segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya. Pasien-pasien awal freud secara spontan teringat kepada mimpi-mimpi mereka dan kemudian melakukan asosiasi bebas tentang mimpi mereka kemudian Freud segera  menyadari  bahwa mimpi-mimpi yang dilaporkan dan asosiasi bebas yang mengiringinya merupakan sumber informasi yang kaya tentang dinamika kepribadian manusia. Dengan membiarkan pasiennya berasosiasi bebas terhadap mimpi-mimpinya, Freud mampu menerobos ke dalam wilayah-wilayah jiwa manusia yang paling tersembunyi dan menemukan lapisan paling dasar dari kepribadian.
c.       Interpretasi
Satu sarana teknik psikoanalitik yang sangat penting. Prosedur analitik lainnya menyiapkan interpretasi, memperkuat interpretasi, atau memperkuat interpretasi efektif. Memginterpretasikan berarti membuat peristiwa psikis tidak sadar atau pra sadar menjadi sadar. Artinya membuat ego rasional dan menyadari sesuatu yang telah di lupakannya, dengan kata lain analis menunjukkan kepada pasien tentang makna sebenarnya terkait dengan beberapa prilaku pasien (Gerald,2010)
d.      Analisis tranferensi
Transferensi adalah mengalami perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, sikap-sikap, fantasi-fantasi dan pertahanan- pertahanan terhadap seseorang pada masa sekarang yang sebenarnya tidak tepat di tunjukan pada orang itu, tetapi pengulangan reaksi yang mula-mula di tunjukan kepada orang yang pening pada masa kanak-kanak awal, secara tidak sadar di pindahkan pada figure sekarang. Sumber asli dari reaksi transferensi adalah orang-orang penting pada masa kanak-kanak awal. Pada hakikatnya reaksi transferensi tidak sadar, meskipun suatu aspek dari dari reaksi mungkin sadar. Transferensi terjadi di luar dan di dalam analisis, pada pasien-pasien neurotic dan psikotik, juga pada orang-orang sehat. Pada proses terapi analisis tranferensi, analis tetap berada pada figure yang tidak jelas dan mendorong pasien untuk memberikan respon kepadanya seperti cara merespon orang-orang penting dalam hidup pasien terutama orang tuanya (Gerald,2010).
3.      Modifikasi dalam Terapi Psikoanalisis
Seperti yang terjadi dalam semua paradigma, perubahan ide orisinal mengenai cara terbaik melakukan terapi juga terjadi sepanjang waktu. Salah satu inovasi dalam terapi psikoanalisis adalah terapi dapat dilakukan secara kelompok, tidak hanya pada perseorangan. Meskipun demikian dalam lingkup psikoanalisis terdapat beberapa kontroversi mengenai keberhasilan pendekatan kelompok ini yang disebabkan format kelompok dapat melemahkan proses tranferensi kepada analis dan menjadikan terapi tidak efektif (Gerald,2010). Bentuk-bentuk modifikasi dalam terapi psikoanalisis saat ini mencangkup analisis ego, terapi psikodinamika singkat, dan terapi psikodinamika interpersonal. Secara spesifik mengenai bentuk modifikasi dalam terapi psikoanalisis dijabarkan sebagai berikut:
a.      Analisis ego (ego analysis)
Modifikasi bentuk terapi ini dikembangkan setelah meninggalnya pionir pendiri mahzab psikoanalisis Sigmund freud. Konsep ini digagas oleh beberapa tokoh utama seperti Karen horney, Anna freud, Hein Hartmann. Meskipun dalam konsepnya freud mengabaikan interaksi organisme dengan lingkungannya namun pada intinya pandangan tersebut merupakan suatu model dorongan intrapsikis yang membentuk suatu prilaku. Pada konsep analisis ego ini, memberikan penekanan yang lebih besar pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan lingkungan dan memilih saat dan cara memuaskan dorongan insting tertentu. Selain itu analisis ego lebih memfokuskan pada kondisi kehidupan individu di masa sekarang, namun tetap mempertimbangkan beberapa penyebab prilaku individu yang terjadi di masa lalunya. Secara umum teknik penerapan analisis ego sebagian besar menggunakan bentuk model terapi seperti sebelumnya tetapi lebih sedikit memberikan penekanan pada tranferensi.
b.      Terapi psikodinamika singkat (brief therapy)
Bentuk modifikasi terapi ini muncul sebagai evaluasi dari pelaksanaan terapi psikoanalisis yang bersifat konvensional dan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Keadaan ini disebabkan focus penggalian penggalian yang lebih ditekankan pada proses alam bawah sadar. Penggagas dari terapi psikodinamika singkat adalah psikoanalisis Ferenczi, alexsander dan French (Gerald,2010). Mereka mempertimbangkan berbagai aspek-aspek untuk memudahkan merancang bentuk terapi dinamik yang berdurasi lebih singkat dengan menekankan pada permasalahan-permasalahan spesifik yang dihadapi pasien. Factor lain yang berperan dalam pertumbuhan terapi singkat ini adalah tantangan yang dihadapi para professional kesehatan mental dalam merespon, kondisi gawat darurat psikologis seperti gangguan stress pasca trauma dan gangguan psikologis lainnya. Terapi psikodinamika singkat ini memiliki beberapa elemen sebagai berikut (Koss & Shiang,1994):
1)      Penilaian cenderung cepat dan lebih awal  
2)      Terapis memainkan peran yang lebih aktif dibandingkan psikoanalisis tradisional
3)      Sejak awal dijelaskan bahwa terapi tidak akan berlangsung lama dan diharapkan memperoleh perbaikan dalam beberapa sesi singkat dari 6 hingga 25 kali sesi.
4)      Tujuannya bersifat kongkrit dan difokuskan pada perbaikan simtom-simton terburuk, membantu pasien memahami apa yang terjadi dalam kehidupannya dan membuat pasien mampu menghadapi masalah dengan lebih baik di masa depan.
5)      Interpretasi lebih diarahkan ke berbagai situasi kehidupan dan perilaku pasien saat ini daripada perasaan-perasaan di masa lalu.
6)      Perkembangan tranferansi tidak didorng, namun beberapa tranferensi positif kepada terapis dibiarkan terjadi untuk mendorong pasien mengikuti saran-saran dan nasihat terapis.
7)      Terdapat suatu pemahaman umum bahwa psikoterapi tidak menyembuhkan, namun dapat membantu individu yang bermasalah belajar menghadapi dengan lebih baik berbagai penyebab stress yang tidak dapat dihindari dalam hidup.
c.       Terapi psikodinamika interpersonal (interpersonal psychodynamic therapy)
Merupakan salah satu jenis terapi psikodinamika singkat yang biasa disebut dengan terapi interpersonal, menekankan interaksi antara pasien dan lingkungan sosialnya (Gerald, 2010). Pelopor perkembangan pendekatan ini adalah psikiater amerika Harry Stuck Sullivan, yang mendasari konsep bahwa kesulitan mendasar pasien adalah kesalahan persepsi terhadap kenyataan yang berakar dari disorganisasihubungan interpersonal di masa kecil terutama hubungan anak dan orang tua. Lebih jauh Sullivan menyatakan pandangannya terhadap analis sebagai “participant observer” dalam proses terapi, didasarkan pada argumen bahwa terapis seperti halnya ilmuwan tanpa dapat dihindari merupakan bagian dari proses yang ditelitnya. Dengan kata lain, seorang analis tidak dapat melihat pasien tanpa sekaligus mempengaruhinya (Gerald,2010).
Contoh kontemporer terapi interpersonal ini adalah terapi interpersonal IPT yang digagas oleh Gerald Klearman dan Myrna Weissman (Klearman,dkk., 1984). IPT berkonsentrasi pada kesulitan interpersonal pasien pada saat ini dan pada pembahasan dengan klien serta mengajarkan cara yang lebih baik untuk berhubungan dengan orang lain. Walaupun dalam pengembangannya menggunakan beberapa pemikiran psikodinamika, namun tetap berbeda terutama dengan bentuk psikoanalisis tradisional. IPT berbeda dari psikoanalisis tradisional khususnya dalam peran terapis yang lebih sebagai pendukung aktif pasien daripada sebagai layar kosong yang netral. Adapun teknik-teknik yang digunakan dalam terapi IPT menggabungkan antara mendengaran dengan empati  dan saran-saran behavorial serta bagaimana konsep penerapannya. Contoh: terapis dapat menggali bersama pasien kompleksitas berbagai masalah hari ini, dengan penekanan pada hubungan pasien dengan orang lain. Kemudian terapis mendorong pasien melakukan perubahan behavioral spesifik. Untuk memudahkan perubahan tersebut dapat dilakukan dengan memperaktikan beberapa prilaku baru dalam ruang konsultasi (role play).
4.      Evaluasi Paradigma Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud. Menurutnya, kehidupan manusia ditentukan oleh adanya dorongan-dorongan id (ego) yang bertujuan untuk memuaskan kesenangan (the principle of pleasure). Ego ini sangat ditentukan oleh masa lalunya, khususnya ketika masih balita, sedang hati nurani (super ego) muncul karena adanya interaksi individu dengan lingkungan sosialnya (Atkinson,). Teori Freud tentang dorongan id (libido sexual) termasuk salah satu teori yang mendapat kritik keras karena dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas hidup seseorang. Apalagi jika dilihat dari perspektif Islam, teori ini tidak akan mampu menjelaskan kebutuhan manusia untuk beragama yang  dalam ajaran Islam diyakini bahwa manusia punya kecenderungan untuk beragama (fithrah) sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi, Setiap manusia yang lahir ke dunia membawa bekal fithrah (sikap bertauhid), (HR. Bukhari).
   Pandangan Freud yang menyatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi masa lalunya juga menuai kritikan. Menurut Freud, untuk memahami perilaku seseorang pada saat ini kita harus merujuk kehidupannya di masa kecil. Pendapat ini mempunyai kelemahan yang sangat mendasar karena hidup seseorang berarti menjadi determinist yang akhirnya meyebabkan fatalism. Jika kehidupan masa kecilnya tidak baik maka masa depannya tidak akan jauh berbeda, sehingga seolah-olah tidak ada lagi harapan pada manusia untuk berkembang kearah yang lebih baik (Ancok,2005). Terlepas dari berbagai kritik diatas konsep dasar psikoanalisis memberikan kontribusi yang signifikan terutama dalam bidang psikologi klinis. Mengenai sumbangan freud, secara sistematis dijabarkan sebagai berikut:
1.   Sebagai orang pertama yang menyentuk konsep-konsep psikologi seperti peran ketidaksadaran (unconsciousness), anxiety, motivasi, pendekatan teori perkembangan untuk menjelaskan struktur kepribadian
2.   Posisinya yang kukuh sebagai seorang deterministik sekaligus menunjukkan hukum-hukum perilaku, artinya perilaku manusia dapat diramalkan
3.   Pengalaman-pengalaman masa kecil membentuk kepribadian di masa dewasa.
4.   Penggunaan defence makanisme untuk mengontrol kecemasan dan stress.
Sedangkan evaluasi paradigm psikoanalisis era kontemporer (neo-freudian) dari beberapa konsep tokoh yang telah dikemukakan diatas yakni:
1.      Adler dikenal dengan sumbangan teorinya yang optimistik dan berorientasi pada masa depan dalam memandang manusia.
2.      Jung memasukkan unsur budaya dalam aliran psikoanalisa sehingga teorinya juga menjangkau bidang luas seperti sejarah, seni, dan lain-lain. Kritik terhadap Jung dan Adler ditujukan pada "keilmiahan" konsep teori keduanya.
3.      Karen horney memberikan deskripsi yang komprehensif mengenai kepribadian neurosis menjadikan kerangka yang baik untuk memahami orang yang jiwanya tidak sehat. Teori horney dijadikan petunjuk umum tingkah laku guru, terapis, dan khususnya orang tua dapat memakai asumsi-asumsinya mengenai perkembangan kecenderungan neurotic.  Mendorong orang tua memberikan suasana hangat, aman, dan lingkungan yang menerima anak.
4.      Kelemahan dari teori horney, metode tidak dikembangkan memakai data yang spesifik, lebih banyak memakai spekulasi yang sukar diuji. Seperti Freud, teorinya banyak didasarkan pada pengalaman klinik dan kontak-kontak pribadinya dengan penderita neurosis. Namun dia cukup setia dengan kedudukannya, yakni hanya membahas neurotik, dan tidak membuat asumsi-asumsi mengenai orang yang sehat. Di sisi lain, dengan segala kekurangan metodologisnya organisasi pengetahuan tentang neurosis dari teorinya cukup signifikan.



  1. KESIMPULAN
Dari penjelasan atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep klinis dalam paradigma psikoanalisis merupakan konsep yang mengutamakan penggalian isi ketidaksadaran individu. Bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh factor-faktor intrapsikis ( konflik tak sadar, represi,defence mekanisme) dengan kata lain esensi pribadi individu bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Selain itu, dibahas juga tokoh-tokoh yang termasuk dalam paradigma psikoanalisis yang terbagi dalam dua katagori yakni era klasik yang dicetuskan oleh Sigmund freud dan era kontemporer atau yang lebih dikenal dengan neo-freudian: Carl Jung, Adler, Karen Horney, Fromm dan Sullivan dengan masing-masing konsep yang telah dikemukakan diatas.
Kajian terkait konsep klinis dalam paradigma psikoanalisis membahas tentang konsep terapi dan teknik-teknik yang dilakukan. Berbagai metode atau teknik terapi diantaranya, teknik asosiasi bebas, analisis mimpi, interpretasi dan analisis tranferensi. Upaya teknik dan metode terapi ini mengalami modifikasi agar sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan manusia saat ini. Adapun bentuk modifikasi terapi psikoanalisis yakni: analisis ego, terapi psikodinamika singkat, dan terapi psikodinamika interpersonal. Mengenai evaluasi terhadap paradigma psikoanalisis sendiri mendapat proporsi seimbang antara sumbangsih maupun kritikan yang diarahkan padanya. Sigmund freud sebagai penggagas teori menjadi pionir pengembangan aplikasi ilmu pengetahuan dan praktik-praktik klinis, konsep besar mengenai pengaruh alam bawah sadar terhadap prilaku mengilhami banyak praktisi untuk mengembangkan serta berupaya untuk menciptakan konsep yang lebih baik lagi.

Daftar Pustaka
Alwilsol (2004). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.

Ancok, Djamaluddin (2005). Psikologi islam solusi atas problem-problem psikologi. Yogyakarta: pustaka pelajar.

Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., dan Hilgard, E.R. 1994. Pengantar Psikologi Jilid 2. Edisi Ke- 8. Editor: Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Klearman, G.L., Weissan, M.M., Chevron, E.S.(1984).interpersonal psychotherapy of depression. Newyork:Basic Book.

Koss,. M.P & Shiang.J.(1994). Research on brief psychotherapy. In. A.E. Bergin & S.L Gardfield .eds.Hanbook of psychotherapy and behavior change. Newyork:Wiley.

Semiun, Yustinus (2006). Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalisis Freud. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Markam, Suprapti Sumarmo (2003). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar