|
REFLEKS
|
STIMULASI
|
RESPON BAYI
|
POLA PERKEMBANGAN
|
|
Mengejapkan Mata
|
Sorotan cahaya, tiupan angin
|
Menutup kedua mata
|
Permanen
|
|
Babinski
|
Telapak kaki diusap
|
Melebarkan jari kaki, memutar-mutarkan kaki
|
Menghilang setelah 9 bulan hingga 1 tahun
|
|
Memegang
|
Telapak tangan diusap
|
Menggenggam dengan kuat
|
Melemah setelah 3 bulan, menghilang setelah 1 tahun
|
|
Moro (mengejutkan)
|
Stimulasi tiba-tiba: contoh mendengar suara nyaring
|
Kaget, melengkungkan punggung, melemparkan kepala ke
belakang, merentangkan lengan dan kaki serta kemudian dengan cepat
menutupkannya ke pusat tubuh
|
Mengilang setelah 3 hingga 4 bulan
|
|
Mencari
|
Leher atau pinggir mulut diusap
|
Membalikkan kepala, membuka mulut, mulai mengisap
|
Menghilang setelah 3 hingg 4 bulan
|
|
Melangkah
|
Bayi diangkat & kaki diturunkan untuk menyentuh
permukaan
|
Menggerakkan/ menjejakkan kaki seolah-olah berjalan
|
Menghilang setelah 3 hingg 4 bulan
|
|
Mengisap
|
Benda menyentuh mulut
|
Mengisap secara otomatis
|
Menghilang setelah 3 hingg 4 bulan
|
|
Berenang
|
Bayi menaruh wajah ke bawah di dalam air
|
Membuat gerakan-gerakan berenang yang terkoordinasi
|
Menghilang setelah 6 hingga 7 bulan
|
|
Leher Ditopang
|
Bayi ditelentangkan
|
Mengepalkan tinju kedua tangan dan biasanya
membalikkan kepala ke kanan (kadang disebut gaya pemain anggar )
|
Menghilang setelah 2 bulan
|
Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Agustus 2014
Refleks Bayi
Selasa, 19 Juni 2012
Perkembangan Anak Normal
Kelekatan
n Suatu
ikatan cinta kasih antara orangtua dan anak sepanjang kehidupan anak-anak
n Lalu
apa kaiatannya dengan psikopatologi ?
n Adanya
kegagalan ikatan yang seharusnya dibina hilang atau tercabut karena :
perceraian, kematian, kemiskinan, dll
n 2
minggu anak memahami suara-suara manusia
n 4
minggu mengenali suara ibunya
n Bulan
ke dua adanya kontak mata
Efek kurangnya kelekatan
n Seperation
anxiety ; ibu meninggalkan anak
n Stranger
anxiety ; takut adanya orang asing
n Kecemasan
merupakan hal yang normal masih pada frekuensi yang wajar namun bila keberfungsian
anak terganggu dapat dikategorikan kecemasan yang bermasalah
n Misalnya
takut orang lain nangis-wajar menjadi tidak wajar jika takut orang lain anak
panas dingin atau muntah-muntah atau menolak untuk pergi ke sekolah
Pengasuhan
n Kombinasi
antara memberikan kenyamanan dan menstimulasi kemampuan anak
n Kualitas
pengasuhan akan meningkatkan kelekatan
n Pertanyaan
: mengapa kelekatan begitu penting dalam proses sosialisasi anak ?
n Kelekatan
sangat terkait dengan eksplorasi dalam lingkungannya
n
Perkembangan
ttg Pengasuhan saat iniPositive parenting
n
Co
Parenting
n
Pola
Asuh kombinasi
n
Inti
dari pengasuhan mengajari anak :
n
Percaya
Diri
n
Kompeten
n
Mengenal
Lingkungan Sosial dan Agama
n
Smie
atau senyum
Inisiatif
n Jika
kelekatan merupakan hal terpenting pada perkembangan anak di tahun awal, maka
inisiatif merupakan hal penting di tahun ke dua.
n Adanya
keingintahuan dan eksplorasi lingkungan
Perkembangan Psikososial menurut Erik Erickson
Dampak dari Inisiatif
n Harga
diri
n Perkembangan
bahasa
n Perkembangan
locus of control yang positive
n Kepekaan
diri : intrapersonal
n Kepekaan
sosial : interpersonal
n Jika
terhambat atau perkembangan inisiatif tidak berjalan dengan baik maka :?
Kontrol Diri
n Di
mulai dari segi fisiologis yang tentunya berdampak pada psikologis
n Keterkaitan
dengan hukuman – hadiah
n Perkembangan
proses kognitif anak pada sebab dan akibat
n Pendidikan
toilet training
n Mengapa
gagal dalam pembentukan kontrol diri ini?
n Bagaimana
keterkaitan kontrol diri dengan disiplin dari orang tua?
Kedisiplinan dari orang tua
n 3
jenis pengasuhan :
n Love
oriented : pujian
n Power-oriented
“ keharusan, kontrol, alasan yang tdk tepat –hanya takut pada hukuman
n Permissive
parent : anak terabaikan
Menurut anda adakah standar disiplin yang idela bagi anak
atau tidak ada?
Kesadaran
n Lahir
di luar evaluasi perilaku anak
n Adanya
evaluasi yang berkaitan dengan nilai
n Kesadaran
tersidiri dari pemikiran, perasaan, perilaku-yang terkait dengan benar atau
salah
Peran Gender
n Identitas
gender atau seks : laki-laki atau perempuan
n Peran
gender : bagaimana peran yang tepat bagi laki-laki atau perempuan
Agresi
n Apa
itu agresi ?
n Marah
atau tntrum , secara fisik atau verbal saja ?
n Menejemen
agresi ; orangtua apakah hangat atau tidak, model untuk kontrol diri ada atau
tidak, disiplin bagaimana?
Relasi Sosial
n Perkembangan
awal masa anak : bahasa, kepekaan rasa, berbagi, merespon dengan tepat
n Pertemanan
n Grup/kelompok
n Pekerjaan
n Pemilihan
waktu luang dan identitas remaja
Cerebral Palsy
Tugas Perkembangan Masa Bayi &
Kanak-kanak
•
Belajar memakan makanan padat
•
Belajar berjalan
•
Belajar berbicara
•
Belajar mengendalikan pembuangan kotoran
tubuh/toilet training
•
Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
•
Belajar membedakan benar dan salah, mulai
mengembangkan hati nurani
Anak Cerebral Palsy
•
Gangguan neurologi yang disebabkan oleh
kerusakan otak
•
Erat laitannya dengan kekakuan, hambatan
postural sehingga sulit bergerak
•
Dapat mengenai hambatan pada penglihatan,
pendengaran, pusat bicara, kombinasi motor dan mental atau gangguan emosi
Tanda keterlambatan
•
Tidak/kurang berkembagnya mekanisme reflek :
kontrol gerakan kepala, kurang lenturnya badan, gerak putar, lurus
•
Tdk terlihatnya gerakan primitif pd awal
perkembangan atau justru tampak pada usia yg seharusnya telah dilewati
•
Melihat penampilan bayi saat lahir : tdk
menangis, tdk mau mnyusu, tdk bergerak
•
Bentuk kepala mikro-hydrosefalus
Penyebab Cerebral Palsy
•
Prenatal :
•
Kondisi ibu yg terkena infeksi / virus-rusak dlm kandungan
•
Perilaku ibu : merokok, minum, obat keras
•
Masalah gizi/nutrisi slm hamil
•
Preeklamsia
Perinatal
•
Terkena infeksi jalan lahir : TORCH
•
Hipoksik Iskemik Ensefalopati
•
Kelahiran yg sulit
•
Asfiksia : tdk bernafas krn banyak cairan
•
Prematuritas rentan pada gangguan
•
BB rendah
•
Pendarahan otak
•
Bayi kuning
Pascanatal
•
Infeksi pd selaput atau jaringan otak
•
Kejang
•
Trauma atau benturan
PREEKLAMSIA-EKLAMSIA:
KETIKA BAYI "MERACUNI" IBUNYA
-
Tekanan
darah yang tiba-tiba naik pada usia kehamilan 20 minggu
-
Awas
kejang pada ibu-dapat membahayakan bayi dan ibu
-
Segera
menurunkan tekanan darah
Intervenasi/Penanganan Multidisiplin
•
Medis : Penyinaran, obat relaksasi otot, anti kejang,
imunisasi, gizi dan makanan
•
Fisioterapi : melenturkan bagian yg kaku dan
latihan pasif(gerak sendi, tengkurap, bangun, penguatan gerak, duduk,) latihan
berjalan
•
Terapi wicara
•
Pendampingan keluarga : peran penting orangtua
dan pengasuh
Co-Parenting
•
Dukungan : keluarga dan orangtua untuk menerima
kondisi dan keterbatasan anak
•
Peran
aktif ayah dan ibu dalam pengasuhan dan pengoptimalan perkembangan anak
•
Latihan terus menerus
•
Tugas perkembangan diselesaikan plus Toilet
training dan table menner
•
Penanaman agama, nilai, dan moral sedini mungkin
•
Social adjustment yang diperlukan
•
Memberikan ketrampilan intrapersonal dan
interpersonal
Senin, 10 Oktober 2011
Aborsi
Di Indonesia sendiri, meski aborsi dilarang, namun
tetap banyak perempuan-perempuan yang melakukan aborsi. Baik dilakukan
berdasarkan indikasi medis tertentu maupun indikasi non medis.
Dalam aborsi, saya sendiri cenderung melihatnya
dari sisi non moral, karena problem moral menurut saya haruslah diletakkan
dalam koridor moral semata dan tentu bukan dalam koridor moral yang dimasukkan
unsur-unsur hukum. Salah seorang teman Dokter memberikan beberapa contoh pada
saya bagaimana terkadang moral dan hukum, dalam pandangannya, tidak mampu untuk
menjawab persoalan persoalan ini.
Contoh A: Seorang perempuan yang diperkosa
ternyata mendapatkan kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan
korban perkosaan dalam terminologi adanya kekuatan yang melakukan pembersihan
etnis dimana dia adalah salah satu etnis yang hendak disapu bersih.
Contoh B: Seorang perempuan yang diperkosa
ternyata mendapatkan kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan
korban perkosaan dalam konteks kejahatan dalam keluarga.
Contoh C: Seorang perempuan yang diperkosa
ternyata mendapatkan kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan
korban perkosaan dalam konteks kejahatan di lingkungan kerja. Dia sendiri sudah
bersuami dan memiliki anak-anak yang baik dan lucu-lucu
Contoh D: Seorang perempuan yang diperkosa
ternyata mendapatkan kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan
korban perkosaan dalam konteks kejahatan biasa. Dia diperkosa karena ada
perampok yang memasuki rumahnya.
Contoh E: Seorang perempuan yang hendak
melangsungkan perkawinan, ternyata telah hamil sebelum perkawinannya
berlangsung. Sementara calon suaminya sendiri kabur entah kemana dan tak dapat
dilacak kembali
Saya berpikir, tentu jika perempuan-perempuan ini
diharuskan memelihara kehamilannya, saya yakin dia akan menanggung beban
psikologis yang berat dan melahirkan anak yang tidak diinginkan akan merupakan
beban dan pukulan kedua yang berat bagi mereka. Dan bisa jadi anak yang
dilahirkannya malah tidak diurus dengan baik, baik oleh dirinya maupun
keluarganya. Kalau sudah begini terjadi lingkaran kekerasan yang tak ada
habisnya
Dari titik ini, terkadang saya berpikir, haruskah
aborsi merupakan jalan keluar? Nah, kalau dia hendak melakukan aborsi, dan bila
aborsi tersebut illegal, dalam pandangan saya, justru malah akan mengancam
kehidupannya sendiri, karena dia akan pergi ke klinik-klinik kelas tiga atau
malah ke dukun, seperti beberapa kasus yang terjadi belakangan ini.saat ini Aborsi merupakan masalah kesehatan
masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu.
Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah
perdarahan, infeksi dan eklampsia.
Saya cenderung tidak mendukung adanya aborsi, akan
tetapi apabila karena aborsi menjadi illegal banyak wanita meninggal dunia maka
seharusnya pemerintah berpikir untuk meninjau kembali bagaimana cara
menanggulangi aborsi.
Menurut saya, diberantasnya para oknum hotel atau
lebih diketatnya razia bisa menjadi pencegah aborsi.
Sebelum melakukan harus memikirkan akibatnya.
Sebelum merasakan rugi akibat aborsi,
berpikirlah sebelum melakukan kegiatan seks. Lakukan seks setelah menikah.
Karena antisipasi dari diri sendiri adalah hal terpenting, karena akan menjadi
sia-sia apabila faktor ekstern mendukung tetapi tidak ada niat dalam diri kita.
Msaka dari itu lakukan seks setelah menikah untuk
menanggulangi aborsi di lingkungan kita.
Rabu, 07 September 2011
Stimulasi Dini untuk Mengembangkan Kecerdasan Jamak dan Kreativitas Anak
Apa
yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?
Kecerdasan
multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan
pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat,
presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan menggunakan
logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan
berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari,
olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada,
melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri
sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang
lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).
Faktor-faktor
apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?
Kecerdasan
multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan
(bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan
berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh
lingkungan terus menerus.
Orangtua
yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung
pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita.
Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan
kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak
tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak
berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas,
mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas
jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan
sampai usia sekolah dan remaja.
Apa
kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?
Tiga
kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan
FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH
SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI
DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).
Kebutuhan
FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja
terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit
yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik
untukmelakukanaktivitassehari-hari.
Kebutuhan
EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan
nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman dengan
kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih
sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan
berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.
Ketiga
kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam
kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak
tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak
optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan
inter dan antar personal juga rendah. Bila stimulasi dalam interaksi
sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang
bervariasi.
Apa
itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?
Stimulasi
dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya
sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang
semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan).
Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan
jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan
dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus
menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu
berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan :
logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal,
gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.
Cara
melakukan stimulasi dini
Stimulasi
sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita.
misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan,
menjelang tidur.
Stimulasi
untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan
menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum,
berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan
menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih),
benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang,
dirangsang untuk meraih dan memegang mainan
Umur
3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh
di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.
Umur
6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk
tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.
Umur
9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak,
memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola,
dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.
Umur
12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna,
menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan
mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok,
piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur,
memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan
perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu),
menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.
Umur
18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan
bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan
gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah,
mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta
dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju,
bermain melempar bola, melompat.
Umur
2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata
sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan
nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain
kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan
berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.
Setelah
umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya,
stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang
pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana,
mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan
kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan
dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di
Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.
Pentingnya
suasana ketika stimulasi
Stimulasi
dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari,
terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya,
dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).
Stimulasi
harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh
dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu,
memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan
bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang
lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh
justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua
ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam,
diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.
Pentingnya
pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)
Oleh
karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam
suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka
terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau
pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan
kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong
keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas
keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau
hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan
kesalahan.
Mengapa
stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?
Sel-sel
otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah
lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai
milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan
6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian
fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak
ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita
tersebut.
Semakin
bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan
antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka
semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan
kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan
anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan
mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).
Bagaimana
cara merangsang kecerdasan multipel ?
Untuk
merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita
berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu
anak-anak dll.
Latih kecerdasan
logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung
mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki,
puzzle, monopoli, permainan komputer dll.
Kembangkan kecerdasan
visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar
lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan
komputer dll.
Melatih kecerdasan
gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas
satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari,
olahraga permainan dll.
Merangsang kecerdasan
musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik,
mengikuti irama dan nada.
Melatih kecerdasan
emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan
lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama
membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa,
budaya, agama melalui buku, TV dll.
Melatih kecerdasan
emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita,
pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.
Merangsang kecerdasan
naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot,
memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai,
mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.
Bila
anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus
sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak
kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.
Bagaimana
cara mengembangkan kreativitas anak ?
Kreativitas
dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan
sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang
tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak
akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa
hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.
Bagaimana
peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?
Kreativitas
anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik),
yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak
untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin
mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua
paling benar, atau melecehkan pendapat anak
Orangtua
harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan,
melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan
atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak
kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah
salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan
mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk
mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan
didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya
sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan
pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.
Selain
itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu,
menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil
yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu
unsur penting pengembangan kreativitas anak.
Keluarga
harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang
berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat,
rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab
dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih
dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak,
melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan
dirinya atau orang lain.
Orangtua
harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir
dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain,
menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak
lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka
menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna
biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak.
Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba
suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.
Semua
hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting
untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan
intuisi), abstrak, bebas, simultan.
Ringkasan
Jika
menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak
bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan,
pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang
perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki,
tangan dan jari-jari.
Cara
melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang
anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan
bayi/balita, misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi
makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam
kendaraan, menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat
berinteraksi dengan balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok
Bermain, Taman Kanak-Kanak dan sejenisnya.
Stimulasi
harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang
otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat
bayi, memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan
kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman
dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba
berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku
yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat
melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.
Pola
asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak. Dengarkan omongan
anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak,
jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau
melecehkan pendapat anak.
Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.
Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)